Rabu, 20 April 2016

Menang Kompetisi HAM PBB, Ini Perasaan Siswi Tunanetra di Gaza

Gambar sisip 1

Gaza - Menjadi seorang pemenang adalah suatu hal yang membanggakan. Perasaan inilah yang saat ini menyelimuti hati Yasmin Al-Najjar (13), seorang siswi tunanetra di Jalur Gaza.

Baru-baru ini, Yasmin Al-Najjar memenangkjan kompetisi hak asasi manusia yang diselenggarakan di sekolah-sekolah UNRWA di wilayah Jalur Gaza. Ia berhasil mengalahkan lebih dari 60 siswa lainnya.

"Keluarga dan teman-teman merasa bangga ketika kita tahu bahwa saya telah memenangkan hadiah pertama," ungkapnya, yang merupakan anggota Persatuan Mahasiswa HAM di Gaza.

Seorang Muslimah tunanetra asal Gaza ini juga membeberkan bahwa dirinya mendapat banyak motivasi dari banyak orang, sehingga ia memutuskan untuk giat belajar selama satu pekan sebelumnya.

"Banyak orang yang telah memotivasi saya, dan saya telah menghabiskan satu pekan untuk terus belajar dan merevisi dengan bantuan salah satu guru saya. Untuk itu, saya siap berkompetisi," paparnya dikutip dari Middle East Monitor melaporkan pada Rabu (20/4).

Al-Najjar sendiri bersekolah di salah satu fasilitas sekolah UNRWA khusus anak-anak tunanetra. Kompetisi tersebut meliputi 40 pertanyaan dari buku pelajaran hak asasi manusia yang diajarkan di sekolah-sekolah itu.

Khadijah al-Masharawi, guru Al-Najjar membeberkan bahwa ia merupakan seorang siswi yang pemalu. Pada awalnya siswinya tersebut agak ragu untuk mengikuti kompetisi yang ada.

"Saya telah mendorong dan melatihnya. Kemudian dia menang, dia merasa bangga dan menjadi lebih hidup dan aktif," katanya menceritakan keadaan muridnya pasca memenangi kompetisi.

Akan tetapi, kantor berita QudsNet melaporkan bahwa Al-Najjar bukan satu-satunya pemenang yang tunanetra. Yasser Al-Arja (13 tahun) dan Mariam Abu-Shawish (12 tahun) juga memenangkan hadiah dalam kompetisi yang sama.

UNRWA mengajarkan hak asasi manusia kepada siswa di sekolah-sekolah di Gaza untuk memperkuat pemahaman mereka tentang hak-hak mereka sendiri dan orang-orang lain. Namun mereka sempat dikritik oleh banyak keluarga Palestina karena mengakui hak Israel di wilayah Palestina yang diduduki.

Padahal siswa sekolah UNRWA saat ini adalah cucu dari warga Palestina yang dipaksa keluar dari rumah mereka oleh kelompok teroris Zionis pada tahun 1948. Seorang guru hak asasi manusia mengatakan MEMO bahwa UNRWA akhirnya memutuskan untuk menghapus pelajaran terkait hal tersebut di awal tahun ajaran berikutnya.

Related Posts

Menang Kompetisi HAM PBB, Ini Perasaan Siswi Tunanetra di Gaza
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini. Silahkan tinggalkan Saran, kritik dan untaian nasehatnya dengan sopan.Thanks