Ekspresi para pendengar itu mulai hanyut dalam kisah.
Sebagian besar dari mereka membelalakkan mata, karena rasa antusias yang
menghampiri kala mendengar cerita awak-awak Suriah. Beberapa diantaranya mencoba
untuk mengabadikan dalam telepon genggam mereka sambil mengernyitkan dahi.
Hanya sedikit saja yang terketuk hatinya untuk datang dan
mampir mendengar kisah “Merajut Cinta di Negeri Syam”. Untuk mereka yang
melangkahkan kaki di ruang beralaskan karpet berwarna hijau ini, telah
mendapatkan untaian kisah dan kebenaran di Syam. Dan mereka telah melangkah
keluar dengan membawa arti sendu dan kenyataan akan bumi yang penuh derai air
mata.
Ini adalah sebuah even menarik, melihat bagaimana sebuah
kisah yang pilu dipaparkan dengan dibarengi beberapa video yang mengharukan.
Bagaimana, seorang bocah Suriah yang
sekarat dan berlumuran darah menyampaikan wasiat untuk mendirikan sholat tepat
pada waktunya.
Tak hanya itu, mereka yang duduk diatas kursi berwarna biru
juga melihat seraya mengangkat kepalanya, bagaimana seorang bocah Suriah harus
menjalani operasi tanpa adanya bius yang biasa digunakan seorang pesakit. Dia
hanya bisa merintih dan menahan tangis dengan melantunkan ayat suci al-Qur’an.
Untuk anak di usia segitu mungkin tidak lah mudah. Karena
sepantasnya, di masa kanak-kanak hanya terbiasa dengan bermain dan bermain
belaka. Akan tetapi, hal ini telah sirna dengan adanya konflik yang melanda
negeri yang diberkahi.
Misi Medis Suriah lantas mencoba untuk menyalurkan segopoh
bantuan dari muhsinin Indonesia untuk mereka. Selama 1 tahun seorang Ihsan al-Faruqi bersama
koleganya menyalurkan amanah untuk diberikan pada Muslim Suriah.
Amanah yang ada pada mereka telah disalurkannya dengan
mengobati luka fisik, walau pasien harus merintih karena tidak adanya infus.
Mencoba untuk mendirikan gubuk asa bagi pendidikan anak-anak Suriah yang
terlantar kerana gugurnya bapak ibu mereka.
Untuk mengobati rasa haus permaianan anak-anak, mereka juga
mendirikan area bermain bagi bocah-bocah yang dilanda krisis Suriah di kamp
pengungsian perbatasan Turki.
“Kami telah membuat pabrik roti di sana walau pabrik roti
kita telah diambil alih oleh rezim Assad. Tetapi, Alhamdulillah alat pembuat
roti sudah dibawa pergi dan kita masih bisa memproduksi,” cakap al-Faruqi
seraya tersenyum.
“Program yang akan dibangun adalah membuat santunan janda.
Kemaren kita juga sudah menyalurkan 1200 pemanas ruangan dan membagikan
selimut-selimut beserta beberapa tenda. Kami juga membangun taman bermain untuk
anak-anak di pengungsian perbatasan Turki,” tambahnya seraya membeberkan
beberapa hal lainnya.
Di tengah suasana yang senyap dan promotor menanyakan kepada
para pendengar, “adakah yang mau bertanya?” Lantas seorang wanita dengan
sedikit malu mengangkat tanggannya untuk menanyakan perihal yang ada dalam
sanubarinya.
Pada titik inilah bagaimana dia seorang, menanyakan
bagaimana kita semua bisa memberikan kontribusi untuk menolong saudara Muslim
kita di tanah yang penuh berkah. Bagaimana para remaja bisa memberikan sedikit
hal yang ia bisa untuk membantu saudara seimannya di sana.
Memang hal inilah yang perlu kita tanyakan pada diri kita.
Karena, di saat perut kita kenyang akan makanan, mereka hanya bisa
menyembunyikan rasa laparnya dengan memakan rerumputan dan air garam. Di saat
kita tidur nyenyak, saudara kita hanya bisa berdo’a dalam kondisi hati yang
kacau akan sebuah cobaan.
Di saat kita bisa berbahagia dengan keluarga, mereka hanya
akan mawas diri dengan rentetan peluru yang menerpanya. Dan, saat kita
berfoya-foya dengan dunia, Muslim Suriah hanya bisa berjuang dan terus berjuang
untuk mencapai apa yang telah yang telah disabdakan oleh Rosulullah SAW mengenai
barometer kerusakan umat Islam.
“Jika penduduk Syam rusak agamanya maka tak tersisa kebaikan
di tengah kalian. Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang dimenangkan
oleh Allah, tak terpengaruh orang yang menggembosi dan tidak pula orang yang
berseberangan hingga datang hari Kiamat," (Shahih, HR Tirmidzi (2192).
Tak lupa pula tutur kata bocah Suriah akan relawan
kemanusiaan Indonesia.
“Diamnya kalian itu hanya akan membunuh kami dan akan
membunuh kami”.
Untuk itu, jangan kau bercakap kata :
Disana gunung, disini gunung,
Ditengah-tengah bunga melati,
Saya bingung kamu pun bingung,
Kenapa ku harus berlaku begini???!?
Tapi bercakaplah:
Orang barat pergi mengaji Ke braga, jalan ke panti
Meninggalkan saudara seiman jadi berani, seperti raga tak
akan mati.
Hanyut Dalam Untaian “Merajut Cinta di Negeri Syam”
4/
5
Oleh
Unknown


1 komentar:
Tulis komentarsangat mengharukan kalau mengetahui hal seperti ini...
ReplyTerima kasih sudah berkunjung di blog ini. Silahkan tinggalkan Saran, kritik dan untaian nasehatnya dengan sopan.Thanks