Jumat, 11 Maret 2016

Hanyut Dalam Untaian “Merajut Cinta di Negeri Syam”



Ekspresi para pendengar itu mulai hanyut dalam kisah. Sebagian besar dari mereka membelalakkan mata, karena rasa antusias yang menghampiri kala mendengar cerita awak-awak Suriah. Beberapa diantaranya mencoba untuk mengabadikan dalam telepon genggam mereka sambil mengernyitkan dahi. 

Hanya sedikit saja yang terketuk hatinya untuk datang dan mampir mendengar kisah “Merajut Cinta di Negeri Syam”. Untuk mereka yang melangkahkan kaki di ruang beralaskan karpet berwarna hijau ini, telah mendapatkan untaian kisah dan kebenaran di Syam. Dan mereka telah melangkah keluar dengan membawa arti sendu dan kenyataan akan bumi yang penuh derai air mata.

Ini adalah sebuah even menarik, melihat bagaimana sebuah kisah yang pilu dipaparkan dengan dibarengi beberapa video yang mengharukan. Bagaimana,  seorang bocah Suriah yang sekarat dan berlumuran darah menyampaikan wasiat untuk mendirikan sholat tepat pada waktunya.

Tak hanya itu, mereka yang duduk diatas kursi berwarna biru juga melihat seraya mengangkat kepalanya, bagaimana seorang bocah Suriah harus menjalani operasi tanpa adanya bius yang biasa digunakan seorang pesakit. Dia hanya bisa merintih dan menahan tangis dengan melantunkan ayat suci al-Qur’an.

Untuk anak di usia segitu mungkin tidak lah mudah. Karena sepantasnya, di masa kanak-kanak hanya terbiasa dengan bermain dan bermain belaka. Akan tetapi, hal ini telah sirna dengan adanya konflik yang melanda negeri yang diberkahi.

Misi Medis Suriah lantas mencoba untuk menyalurkan segopoh bantuan dari muhsinin Indonesia untuk mereka.  Selama 1 tahun seorang Ihsan al-Faruqi bersama koleganya menyalurkan amanah untuk diberikan pada Muslim Suriah.

Amanah yang ada pada mereka telah disalurkannya dengan mengobati luka fisik, walau pasien harus merintih karena tidak adanya infus. Mencoba untuk mendirikan gubuk asa bagi pendidikan anak-anak Suriah yang terlantar kerana gugurnya bapak ibu mereka.

Untuk mengobati rasa haus permaianan anak-anak, mereka juga mendirikan area bermain bagi bocah-bocah yang dilanda krisis Suriah di kamp pengungsian perbatasan Turki.

“Kami telah membuat pabrik roti di sana walau pabrik roti kita telah diambil alih oleh rezim Assad. Tetapi, Alhamdulillah alat pembuat roti sudah dibawa pergi dan kita masih bisa memproduksi,” cakap al-Faruqi seraya tersenyum.

“Program yang akan dibangun adalah membuat santunan janda. Kemaren kita juga sudah menyalurkan 1200 pemanas ruangan dan membagikan selimut-selimut beserta beberapa tenda. Kami juga membangun taman bermain untuk anak-anak di pengungsian perbatasan Turki,” tambahnya seraya membeberkan beberapa hal lainnya.

Di tengah suasana yang senyap dan promotor menanyakan kepada para pendengar, “adakah yang mau bertanya?” Lantas seorang wanita dengan sedikit malu mengangkat tanggannya untuk menanyakan perihal yang ada dalam sanubarinya.

Pada titik inilah bagaimana dia seorang, menanyakan bagaimana kita semua bisa memberikan kontribusi untuk menolong saudara Muslim kita di tanah yang penuh berkah. Bagaimana para remaja bisa memberikan sedikit hal yang ia bisa untuk membantu saudara seimannya di sana.

Memang hal inilah yang perlu kita tanyakan pada diri kita. Karena, di saat perut kita kenyang akan makanan, mereka hanya bisa menyembunyikan rasa laparnya dengan memakan rerumputan dan air garam. Di saat kita tidur nyenyak, saudara kita hanya bisa berdo’a dalam kondisi hati yang kacau akan sebuah cobaan.

Di saat kita bisa berbahagia dengan keluarga, mereka hanya akan mawas diri dengan rentetan peluru yang menerpanya. Dan, saat kita berfoya-foya dengan dunia, Muslim Suriah hanya bisa berjuang dan terus berjuang untuk mencapai apa yang telah yang telah disabdakan oleh Rosulullah SAW mengenai barometer kerusakan umat Islam.

“Jika penduduk Syam rusak agamanya maka tak tersisa kebaikan di tengah kalian. Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang dimenangkan oleh Allah, tak terpengaruh orang yang menggembosi dan tidak pula orang yang berseberangan hingga datang hari Kiamat," (Shahih, HR Tirmidzi (2192).

Tak lupa pula tutur kata bocah Suriah akan relawan kemanusiaan Indonesia.

“Diamnya kalian itu hanya akan membunuh kami dan akan membunuh kami”.

Untuk itu, jangan kau bercakap kata :
Disana gunung, disini gunung,
Ditengah-tengah bunga melati,
Saya bingung kamu pun bingung,
Kenapa ku harus berlaku begini???!?

Tapi bercakaplah:

Orang barat pergi mengaji Ke braga, jalan ke panti
Meninggalkan saudara seiman jadi berani, seperti raga tak akan mati.

















Related Posts

Hanyut Dalam Untaian “Merajut Cinta di Negeri Syam”
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.

1 komentar:

Tulis komentar
avatar
da
12 Maret 2016 pukul 00.06

sangat mengharukan kalau mengetahui hal seperti ini...

Reply

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini. Silahkan tinggalkan Saran, kritik dan untaian nasehatnya dengan sopan.Thanks